Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Comic 8 : Casino Kings
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga. Film lanjutan Comic 8 ini tayang secara nasional tanggal 15 Juli 2015. Meski begitu, film ini sudah dilaunching duluan di Jakarta. Sayang tidak di kota Semarang lebih dulu :) Berikut review singkatnya.
Tidak mengherankan jika film Comic 8 akan mendapatkan jumlah penonton yang besar di hari pertamanya. Kekuatan pasar yang saat ini dikuasai remaja membawa mereka merajai jumlah penonton dan diprediksi bisa mendapatkan satu juta penonton asal dapat bertahan hingga 1 bulan. Semua orang akan berharap untuk itu.
Sebelum menonton film ini diketahui dulu, bahwa film ini akan bersambung (Part 1). Jadi pastikan bahwa nonton film ini jangan berharap lebih.
Di Semarang, film ini dibuka di dua teater. Animonya sangat tinggi bila melihat antrian yang menunggu sebelum bioskop dibuka. Mulai dari anak-anak dan orang tuanya, remaja hingga dewasa. Keren deh.
.
Kekuatan efek
.
Dengan durasi 102 menit, kurang dari 2 jam, film besutan sutradara Anggi Umbara ini memang harus diacungi jempol. Pasar penonton di Semarang benar-benar tersihir untuk memenuhi kuota tempat duduk di bioskop Semarang. Bukan hanya Cinema XXI (Mall Ciputra) tapi juga di Bioskop E-Plaza.
.
Seperti biasa kekuatan efek pemain film ini yang sebagian besar adalah Comic Stand Up menjadi daya tarik tersendiri. Kali ini mereka berkolaborasi dengan banyak pemain senior yang begitu populer di jamannya. Seperti Barry Prima, George Rudy, Lidya Kandau, Willy Dozan dan lainnya.
Efek lainnya adalah tentang visualisasi yang biasa ditampilin dari film sebelumnya. Sangat wah, keren dan sepertinya penonton mudah menerima bila melihat kilas balik film Comic 8 sebelumnya.
Kekuatan cerita??
Jangan harap deh mendapatkan alur cerita menarik disini. Alur ceritanya diputar-putar mulu. Kebiasaan yang juga sudah dilakukan film sebelumnya. Dan paling nyebelin adalah film ini bersambung hingga februari 2016 (bener nggak sih). Kan ini part 1.
Namun jangan lupa siapa yang menjadi pemainnya. Dijamin ngakak abis deh melihat polah tikah mereka yang tiada henti membuat penonton sangat berisik alias tertawa.
.
Detail
.
Pada bagian pertama ini, ceritanya lebih besar. Bisa dilihat dari jumlah pemainnya yang bertambah. Para Comic diberi misi untuk mencari tahu dimana keberadaan The Kings yang identik dengan Casino.
Mereka bukan lagi berhadapan dengan polisi, tapi dunia judi yang berisi sarang mafia, jagoan dan buaya yang super raksasa. Mengapa ada buaya ini dihadirkan? Karena begitulah awal ceritanya yang pada akhirnya benang merahnya nyambung setelah mereka kembali kena pencucian otak seperti film sebelumnya.
...
Sambutan luar biasa film ini di Semarang seperti full tempat duduk dan dua bioskop adalah indikasi film ini sangat menarik dan menghibur. Apalagi libur lebaran, pasti tambah rame deh.
Selain masih dihuni nama-nama comic sebelumnya, kali ini mereka ditemani banyak comic lain, plus para pemain senior dan yang sedang naik daun seperti Yayan Ruhian.
Fenomena ini sejatinya adalah strategi influencer marketing lapis kedua yang digerakkan oleh agensi. Alih-alih menggelontorkan anggaran besar hanya untuk segelintir mega-influencer , mereka memilih menebar jala ke banyak akun kreator melalui sistem crowdsourcing . Syaratnya pun bervariasi, biasanya menyasar akun-akun dengan minimal followers di angka tertentu, misalnya 1.000 pengikut. Dengan mengerahkan puluhan hingga ratusan kreator secara serentak beberapa hari sebelum film rilis, terciptalah ilusi masif bahwa film tersebut sedang menjadi pusat perbincangan. Dari sudut pandang pemasaran, model ini memang sangat efektif mendongkrak awareness dalam waktu singkat. Begitu kami mencoba masuk ke dalamnya, kami biasanya ditarik ke dalam grup koordinasi—yang belakangan kami sadari isinya bukan cuma soal film, tapi juga berbagai penawaran kampanye lain dengan pola serupa. Dari pengalaman pribadi kemarin, perjalanannya ternyata cukup menguras energi hingga akhirnya kami memilih mundur karen...
Niat awalnya sebenarnya cuma mau mengecek info operasional terkait penutupan sementara area Gelanggang Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang pertengahan Juli kemarin. Tapi saat tiba di lokasi, perhatian kami justru teralih pada hal lain yang selama ini terlewatkan: keberadaan akses Wi-Fi gratis milik Pemkot Semarang. Minggu pagi (19/7), usai melipir sejenak menikmati suasana Car Free Day (CFD) di Simpang Lima, setang sepeda langsung kami arahkan menuju kawasan GOR Tri Lomba Juang. Begitu sampai dan merogoh gawai untuk memastikan kabar penutupan kawasan tersebut, kami baru menyadari smartphone sudah otomatis terhubung ke jaringan internet nirkabel. Jaringannya tampaknya terintegrasi dengan akses Wi-Fi publik di Simpang Lima, sehingga gawai yang pernah terkoneksi akan langsung masuk tanpa perlu repot melakukan login ulang. Spot Duduk yang Nyaman dan Teduh Sambil bersiap mengetes kualitas koneksinya, kami mengamati suasana sekitar selasar. Terlihat beberapa pengunjung sedang asyik duduk santai...
Sebagai pengelola blog yang porsinya lebih sering berkelana menyoroti dinamika ruang kota ketimbang mendalami isi piring, urusan kuliner terkadang jadi ranah yang penuh kejutan bagi kami. Seperti Nasi Glewo yang sempat kami ulas sebelumnya, perkenalan kami dengan Petis Kangkung juga berawal dari lini masa media sosial beberapa bulan lalu. Rasa penasaran itu akhirnya membimbing kami secara tidak sengaja ke sebuah kios kecil di Jalan Jolotundo: Warung Pecel & Gudangan Bu Joko . Siapa sangka, di balik kesederhanaan warungnya, tersimpan salah satu kuliner legendaris khas Semarang yang masih eksis merawat lidah warganya. Kejutan Rasa dan Sensasi Pedas yang "Nempel" Porsi petis kangkung yang dihidangkan tampak sederhana di atas piring lidi beralaskan kertas minyak. Kangkung rebus yang masih bertekstur renyah dipadu tauge segar, lalu diguyur bumbu petis udang khas Semarang yang pekat, gurih, dan manis. Namun, ada pelajaran berharga ketika memesan menu ini: jangan anggap remeh p...
Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...
Festival Kota Lama (FKL) Semarang resmi menginjak usianya yang ke-15 tahun pada penyelenggaraannya tahun ini. Digelar lebih panjang hingga 17 hari (4–20 September 2026) demi menyambut perhelatan akbar MTQ Nasional, hajatan budaya ini kembali menyedot perhatian publik sejak malam pembukaannya yang megah. Namun, di balik kemilau panggung utama dan ramainya Pasar Malam Sentiling yang berkolaborasi dengan pasar malam tradisional, ada kontras menarik yang luput dari pandangan mata. Siapa pun yang mampir ke kawasan heritage sejak pagi menjelang siang hari—jauh sebelum gerbang area utama dibuka atau car free night dimulai—mendapati suasana yang berjalan normal seperti hari biasa. Kawasan tampak "hampa atribut" karena aturan ketat konservasi sejarah, ditambah kontras telak gema branding-nya yang seolah tenggelam di bawah bayang-bayang gegap gempita MTQ Nasional. Bagaimana rupa festival di usianya yang ke-15 ini jika diamati dari dinamika kunjungan harian di luar jam operasional ut...
Comments
Post a Comment