Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Oktober 2026

Image
Selamat datang di bulan Oktober! Tidak terasa kita sudah memasuki kuartal terakhir di tahun 2026. Seperti bulan-bulan sebelumnya, Kota Semarang kembali menghadirkan beragam deretan kegiatan menarik yang siap mengisi agenda akhir pekan maupun hari kerja kamu. Kami tak menyangka meninggalkan September dengan banyak kejutan. Mulai dari daftar acara Semarang yang lebih banyak dari Agustus dan kejutan acara yang terus bertambah tanpa kami ketahui. Agenda Besar Utama Oktober 2026 Peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang Tanggal: 14 – 15 Oktober 2026 (Gladi & Puncak Acara) Lokasi: Kawasan Tugu Muda Semarang Deskripsi: Momen bersejarah tahunan Kota Semarang untuk mengenang jasa para pahlawan. Menampilkan drama teatrikal perjuangan kolosal, upacara khidmat, serta penutupan/pengalihan arus lalu lintas sementara di kawasan Tugu Muda. Kali ini, bulan baru, Semarang sudah diramaikan dengan pameran otomotif skala nasional, panggung fashion, gelaran musik komunitas, kumpul sepeda tua, hingga ...

Film Indonesia di Era Digitalisasi VS Merosotnya Jumlah Penonton


Dalam dunia marketing tentu media sosial adalah alat yang paling keren saat ini. Karenanya, budget promosi bisa ditekan seminimal mungkin dan kekuatannya mampu melipat gandakan dari biasanya. Tapi mengapa hingga tengah tahun ini jumlah penonton Indonesia tidak begitu menggembirakan. Lalu dimana sebenarnya kekuatan itu?


Apa hubungannya dengan dunia marketing dan film? Sangat jelas tentunya. Karena film-film di tahun 2015 menggunakan media sosial sebagai bagian dari promosi mereka.


Hingga pertengahan tahun 2015, jumlah penonton film Indonesia tak ada yang menembus angka 1 juta penonton. Pencapaian ini membuat banyak pihak merasa miris. Industri film tumbuh dengan banyaknya jumlah film, tapi jumlah penonton justru turun drastis. Inikah saatnya mengatakan tidak pada film Indonesia?


Paragraf pertama diatas diambil dari berita yang ditulis Puput Puji Lestari lewat situs bintang.com. Sebagai orang yang suka pergi ke bioskop dan menulis review Film Indonesia tentu ini bukan kabar baik bagi saya maupun Kofindo.


Saya menjadi bagian dari jaman dimana orang-orang film gencar melakukan promosi lewat media sosial. Aktif di media sosial membuat mereka sepertinya tak membutuhkan Kofindo untuk menyebarkan tiketnya secara cuma-cuma lagi. Namun yang tetap tidak berubah adalah mereka masih menggunakan radio untuk membagikan tiket cuma-cuma tersebut.


Yah, mereka sudah cukup belajar bagaimana menggunakan media sosial untuk mempromosikan film mereka. Twitter, facebook dan bahkan youtube menjadi saluran yang menarik untuk penonton mereka hanya dengan posting foto selfie plus tiket mereka.


Bukankah itu seharusnya memiliki dampak yang tinggi. Nyatanya, Filosofi Kopi yang begitu paham branding lewat media sosial tak sampai mendapatkan 1 juta penonton hingga tengah tahun ini. Padahal bisa dibilang anggaran yang digunakan sudah sangat wah.


Turunnya kualitas film


Pendapat yang dikatakan Catherine Keng sebagai Corporate Secretary jaringan bioskop Cinema 21, sepertinya bisa dijadikan referensi.


Kami melihat produksi film menjadi sangat banyak sejak era digitalisasi. Kualitas film Indonesia tidak ada kontrol. Selama ini semua kami tampung, kami beri ruang. Biaya produksi film menjadi murah sejak digitalisasi. Sehingga orang membuat film dengan mudah.


Inilah yang membuat kualitas film turun drastis. Banyak yang membuat film tanpa mempertimbangkan kualitas. Akibatnya, banyak penonton kecewa. Mereka kan beli tiket, ada efford khusus untuk ke bioskop. Sudah keluar uang ternyata yang ditonton nggak berkualitas, mengecewakan.


Kalau sampai film indonesia mengecawakan penonton, bikin penonton kecewa gak mau ke bioskop. Penonton gak bisa didikte. Yang paling ditakutkan adalah generalisasi yang dilakukan oleh penonton. Sekali dua kali mereka kecewa nonton film Indonesia lalu membuat anggapan semua film Indonesia tidak berkualitas. Mereka ogah nonton film Indonesia lagi.


Sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan mereka kembali. Gelagat ini yang sekarang mulai terasa. Penonton mulai tak percaya lagi dengan film Indonesia. Yang disayangkan kemudian adalah sineas yang serius membuat film juga kena dampak generalisasi itu.


...


Ini seperti membayangkan pergi ke pasar dan ditawarin naik mobil yang biasanya hanya naik sepeda. Kecepatan, rasa nyaman dan kapasitas yang dimiliki mobil seharusnya memberi kualitas lebih dalam perjalanan. Termasuk efisiensi dan sebagainya.


Mungkin karena mobil yang digunakan tidak sebanding atau harapan, semisal mogok di jalan-macet dan sebagainya, membuat seseorang memutuskan kapok.


Ayo, masih ada kesempatan hingga akhir tahun ini untuk mendapatkan hati penonton di negeri sendiri. Jangan sampai tahun ini menutup tanpa sesuatu yang membanggakan.


Gambar : Google

Artikel terkait :

@kofindo

…

Informasi Pemasangan Iklan

Hubungi @dotsemarang
Email : dotsemarang [@] gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Oktober 2026

6 Alat Untuk Media Sosial

📱 Era Threads dan Cara Praktis GIIAS Semarang Gaet Konten Kreator Lokal

🏨 Memburu Galeri Sido Muncul Hotel Tentrem Semarang: Dari Ghosting ke Bola

📝 Hari Blogger Nasional 2026: Merawat Rumah, Menjaga Ingatan