📌 Agenda Kota Semarang Bulan April 2026
Akhirnya, penantian kami untuk merayakan Hari Film Nasional secara offline tertunaikan juga. Menariknya, perayaan kali ini tidak membawa kami ke gedung bioskop yang ada di dalam mal, melainkan ke sebuah ruang alternatif yang ternyata menyimpan kesan mendalam.
Semangat Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret kemarin memicu kami untuk tidak sekadar memperingatinya lewat tulisan. Sebuah kesempatan datang dari Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang menggelar acara Book Fair 2026 pada awal April ini. Salah satu agendanya langsung mencuri perhatian kami: Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film 'Gie'.
Menjelajahi Sisi Lain Jalan Sriwijaya
Sabtu siang, 4 April 2026, kami melangkahkan kaki menuju gedung Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang beralamat di Jalan Sriwijaya—tepat di sebelah Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Jujur saja, ini adalah kali pertama kami menginjakkan kaki di gedung ini, dan pengalaman pertama tersebut langsung disambut dengan agenda yang hangat.
Tujuan kami adalah ruang Audio Visual. Di sinilah letak "bioskop alternatif" yang kami maksud. Meski bukan bagian dari jaringan bioskop besar di tanah air, fasilitas bioskop mini milik Perpustakaan Provinsi ini sudah sangat memadai. Kualitas suara dan layarnya cukup mumpuni untuk standar sebuah bioskop mini, memberikan kenyamanan yang pas bagi penonton.
Magnet Sinema Lokal
Pemilihan film Gie karya sutradara Riri Riza menjadi alasan utama kehadiran kami. Semangat merayakan film nasional menjadi berlipat ganda karena karya yang diputar adalah produk sinema dalam negeri yang legendaris. Kami rasa, jika yang diputar adalah film luar, mungkin langkah kaki kami tidak akan seringan ini untuk datang.
Kegiatan nobar ini sendiri dikelola oleh komunitas Semarang Book Party. Karena terbuka untuk umum, suasana di dalam ruangan terasa sangat beragam. Kami duduk di antara para pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang punya ketertarikan serupa terhadap literasi dan sejarah.
Pertemuan Memori di Kampung Melayu
Puncak dari momentum ini bagi kami bukan hanya saat film diputar, melainkan pada sesi diskusi setelahnya. Film Gie seolah "pulang" ke rumahnya sendiri saat percakapan mulai menyentuh detail lokasi syuting di kawasan Kampung Melayu dan Masjid Layur, Semarang.
Ada momen emosional yang kami tangkap saat seorang mahasiswi menceritakan kedekatannya dengan buku catatan harian Soe Hok Gie. Namun, kejutan yang paling berkesan bagi kami adalah kehadiran seorang bapak yang ternyata warga sekitar Kampung Melayu. Beliau menjadi saksi sejarah saat proses syuting film tersebut dilakukan belasan tahun silam di lingkungannya.
Informasi-informasi "organik" dan cerita di balik layar seperti inilah yang tidak akan pernah kami dapatkan jika hanya duduk diam di bioskop mal yang dingin dan terburu-buru oleh jadwal tayang berikutnya.
Esensi Perayaan yang Sebenarnya
Menikmati Hari Film Nasional di ruang publik seperti ini menyadarkan kami bahwa sinema punya kekuatan besar untuk mengikat memori kolektif warga. Kita tidak selalu butuh kemewahan untuk mengapresiasi sebuah karya. Selama filmnya adalah karya Indonesia, aksesnya terbuka, dan ada ruang untuk berdiskusi, perayaan itu sudah terasa sangat lengkap bagi kami.
Kehadiran ruang alternatif di perpustakaan ini menjadi bukti bahwa ekosistem film dan literasi di Semarang tetap hidup dan memiliki tempatnya sendiri di hati masyarakat.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment