📌 Agenda Kota Semarang Bulan September 2026
Sebagai pengelola blog yang porsinya lebih sering berkelana menyoroti dinamika ruang kota ketimbang mendalami isi piring, urusan kuliner terkadang jadi ranah yang penuh kejutan bagi kami. Seperti Nasi Glewo yang sempat kami ulas sebelumnya, perkenalan kami dengan Petis Kangkung juga berawal dari lini masa media sosial beberapa bulan lalu.
Rasa penasaran itu akhirnya membimbing kami secara tidak sengaja ke sebuah kios kecil di Jalan Jolotundo: Warung Pecel & Gudangan Bu Joko. Siapa sangka, di balik kesederhanaan warungnya, tersimpan salah satu kuliner legendaris khas Semarang yang masih eksis merawat lidah warganya.
Porsi petis kangkung yang dihidangkan tampak sederhana di atas piring lidi beralaskan kertas minyak. Kangkung rebus yang masih bertekstur renyah dipadu tauge segar, lalu diguyur bumbu petis udang khas Semarang yang pekat, gurih, dan manis.
Namun, ada pelajaran berharga ketika memesan menu ini: jangan anggap remeh permintaan tingkat kepedasan. Saat ditanya penjual dan kami menjawab, "Dikit aja, Bu," ternyata cukup diberi satu buah cabai rawit yang diulek langsung di piring. Hasilnya? Jangan ditanya. Pedasnya bener-bener nempel di mulut dan punya karakter tajam yang rasanya beda banget kalau dibandingkan dengan sambal ayam geprek.
Saking lidah terasa "terbakar" dan pedasnya menetap, kami buru-buru mencari minuman untuk meredakan sengatan. Di sinilah kejutan sebenarnya bermula.
Di salah satu sudut meja, kami melihat sebuah panci tertutup rapat. Usut punya usut, ternyata isinya adalah kolak pisang. Sungguh penemuan yang tak disangka-sangka; hidangan manis berkuah gula jawa yang biasanya identik dengan momen bulan puasa atau jajanan khusus di pasar tradisional, mendadak hadir di dalam panci sederhana warung ini.
Uniknya, kolak pisang di sini disajikan tanpa santan, sehingga kuahnya terasa lebih bening, ringan, dan segar. Disajikan dingin lengkap dengan es batu di dalam gelas besar, kolak pisang ini sukses menjadi pahlawan penyelamat lidah kami yang nyaris "mati rasa" akibat si petis kangkung. Saking ampuhnya menetralkan pedas, kami bahkan sampai nambah dua gelas!
Daya tarik warung lokal seperti ini bukan cuma di makanannya, tapi juga pengalaman inderawinya. Tepat di sebelah porsi petis kangkung, jajaran baki berisi aneka gorengan hangat seolah memanggil-manggil untuk dijadikan teman santap—perpaduan kuliner merakyat yang apa adanya.
Namun, ada satu hal lagi yang menarik perhatian di tengah kesederhanaan Warung Bu Joko: QRIS sudah tersedia di meja.
Di sinilah letak adaptasi kuliner legendaris di tengah dinamika kota yang bergerak cepat. Warung-warung rumahan kecil tidak lagi tertinggal zaman. Mereka tetap mempertahankan resep otentik turun-temurun, menghadirkan kehangatan interaksi langsung (sekaligus kejutan panci kolak pisang!), tetapi juga sigap merangkul kebiasaan pembayaran digital modern demi memudahkan pembeli.
Menemukan sudut-sudut kuliner seperti ini mengingatkan kita bahwa Semarang selalu punya cara untuk merawat tradisinya, meski zaman dan kotanya terus berlari.
Artikel terkait:
Comments
Post a Comment