📌 Agenda Kota Semarang Bulan September 2026
Beruntung acara sekarang meski tidak kita hadiri, penyelenggara akan menyiarkan langsung lewat internet seperti event Festival Kota Lama yang Jumat kemarin (4/9) ditayangkan via YouTube. Kami yang tidak hadir, sangat terbantu karenanya.
Mengusung tema besar "Unity in Diversity", acara pembukaannya dipusatkan di sekitar fasad Gedung Yayasan Kanisius dengan latar bangunan heritage yang disorot tata cahaya lampu megah.
Dari layar, tampak seremoni dibuka secara resmi oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, disusul megahnya alunan musik dari Surya Vista Orchestra yang berpadu dengan suguhan seni kolaboratif.
Ada satu informasi teknis yang juga disampaikan: durasi festival tahun ini sengaja diperpanjang hingga 17 hari (4–20 September 2026) demi menyambut perhelatan MTQ Nasional di Semarang.
Secara visual dan kemasan acara, semuanya tampak rapi dan megah. Tapi begitu telinga menyimak deretan sambutan yang menggaungkan ajakan idealis—mulai dari pujian soal sense of belonging warga, ajakan agar anak muda tidak sekadar melihat melainkan dilibatkan, hingga dorongan memanfaatkan Kota Lama sebagai ruang kreatif—di situlah kepala mendadak mikir dua kali.
Rasanya gimana, ya? Narasi-narasi manis itu indah didengar kalau diucapkan di ekosistem yang sudah matang. Dulu, sewaktu FKL masih merintis dan butuh eksposur besar-besaran, para pegiat akar rumput, blogger lokal, dan komunitas independen sukarela turun tangan meramaikan tanpa banyak hitung-hitungan. Ikut nimbrung bukan karena dibayar, tapi karena ada rasa memiliki ruang publik.
Seiring waktu berjalan, ketika panitia dan pengelolanya silih berganti, ajakan partisipasi aktif itu lama-lama terasa janggal.
Disuruh gotong royong, tapi fasilitas nol. Disuruh merawat ruang kreatif, tapi aturan main dan aksesnya kaku. Kalau dipikir-pikir, mengurus ruang kultural dan merawat antusiasme tanpa ekosistem suportif itu butuh biaya dapur, bukan sekadar tepuk tangan penonton atau ucapan terima kasih di atas panggung.
Makin ke sini, tiap kali ada event besar berbau instansi, aromanya makin terasa eksklusif dan berjarak. Giliran gaungnya butuh disebar, nama-nama lama yang dulu merintis dari bawah mendadak diingatkan lagi soal pentingnya "kolaborasi dan keterlibatan".
Melihat kemegahan panggung pembukaan dari balik layar, pesan-pesan partisipasi itu sukses bikin tersenyum kecut. Kalau pada akhirnya ruang keterlibatan itu cuma milik mereka yang punya modal atau akses ke lingkaran dalam, ya himbauan manis soal kebersamaan itu rasanya cuma angin lalu.
Bagaimana pendapatmu?
Artikel terkait:
Comments
Post a Comment