📌 Agenda Kota Semarang Bulan Oktober 2026
Sempat menuliskan agendanya di awal bulan, Sabtu pagi (15/8/2026) kami memutuskan turun ke jalan untuk memantau langsung Festival Arak-Arakan Budaya Peringatan Kedatangan ke-621 Laksamana Cheng Ho. Spot yang kami pilih tidak jauh-jauh: trotoar bundaran di depan Lawang Sewu.
Setelah tahun lalu absen menyaksikan arak-arakan, tahun ini kami kembali merapat. Namun, kami memilih tidak meluncur hingga ke pusat perayaan di Klenteng Agung Sam Poo Kong.
Padahal, panitia acara kali ini menerapkan kebijakan menarik dengan membuka gerbang Sam Poo Kong secara gratis untuk umum pada jam-jam tertentu. Meski ada akses gratis, kayuhan sepeda dari Lawang Sewu menuju kawasan Simongan terasa cukup lumayan jika harus dipaksakan pagi itu.
Keputusan ngetrip tipis-tipis di kawasan Tugu Muda ini bukan tanpa alasan. Selain baru pertama kalinya merasakan sensasi menonton kirab dari titik ini, kawasan Tugu Muda selalu menawarkan sudut visual yang ikonik sekaligus dinamika lapangan yang menarik.
Berbeda dengan gelaran Pawai Ogoh-Ogoh atau Semarang Night Carnival (SNC) yang memblokir total akses lalu lintas dari awal hingga akhir perhelatan, Arak-Arakan Cheng Ho di bundaran Tugu Muda menerapkan skema rekayasa jalan yang dinamis.
Aparat gabungan dari Dishub dan Kepolisian tidak mengisolasi rute kirab secara penuh, melainkan memberlakukan sistem buka-tutup lalu lintas. Saat rombongan utama melintas, arus kendaraan dihentikan sejenak. Namun, demi mencegah terjadinya lockdown total di urat nadi lalu lintas kota, parade tak jarang disetop bergiliran untuk mengalirkan deretan angkot, ojek online, hingga kendaraan pribadi.
Bagi penonton yang bertahan di depan Lawang Sewu, jeda buka-tutup ini diakui sempat memotong kestabilan momentum perayaan. Ritme kirab terasa sedikit tersendat jika dibandingkan dengan vibes di area Sam Poo Kong yang jalannya disterilkan penuh. Namun di sisi lain, inilah bentuk kompromi yang realistis: bagaimana sebuah peringatan sejarah berusia 621 tahun yang kini rutin dikemas dalam festival jalanan ini tetap beradaptasi di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kota metropolitan.
Memantau dari sudut Tugu Muda memberikan gambaran betapa beragamnya elemen yang meramaikan kirab budaya tahun ini. Barisan terdepan dibuka secara anggun oleh rombongan pembawa bendera Merah Putih, disusul parade tokoh berbalut gaun tradisional Hanfu berwarna merah menyala dan busana Changshan beraksen emas.
Kemeriahan berlanjut dengan melintasnya pelbagai rombongan unik. Mulai dari keberadaan Pasukan Sapu Jagad yang membawa sapu lidi berikat pita merah sebagai simbol pembersihan rute ritual, deretan Jio Hio (tandu suci arca) berukir naga emas bertabur tirai bunga melati segar dari pelbagai klenteng, hingga penampakan duo figur Jenderal Bhekun raksasa yang melangkah kokoh di antara riuhnya atraksi barongsai, liong, serta rombongan peserta lainnya.
Hal menarik lainnya dari titik pantau Lawang Sewu adalah kehadiran barisan fotografer kawakan. Di saat kami hanya mengandalkan pergerakan lincah kamera smartphone, area sekeliling justru didominasi para fotografer senior yang sigap memboyong 2 hingga 3 bodi kamera SLR lengkap dengan susunan lensa tele tebal.
Melihat antusiasme para pemburu visual ini berburu angle terbaik saat rombongan peserta berpose di tengah jalan raya memberikan warna tersendiri. Pengamatan langsung di Tugu Muda ini menegaskan satu hal: perayaan tradisi dan festival budaya di Kota Semarang selalu punya cara tersendiri untuk dinikmati, baik dari riuhnya panggung utama maupun dari sudut-sudut jalan raya tempat warga dan sejarah saling berpapasan.
Artikel terkait:
Comments
Post a Comment