📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026
Kembalinya kami ke Pura Agung Giri Natha pada hari Sabtu, 6 Juni 2026 kemarin, tidak berawal dari sebuah undangan formal. Cerita ini bermula dari linimasa Instagram. Saat sedang berselancar di media sosial, kami menemukan informasi pendaftaran terbuka untuk agenda kreatif bertajuk 'Perjalanan Napak Tilas'.
Kegiatan luar biasa ini ternyata merupakan bagian dari implementasi nyata Mata Kuliah Komunikasi Budaya Universitas Semarang (USM) yang diinisiasi oleh dosen pengampu, Ayang Fitrianti, S.S., M.I.Kom. Program ini dirancang sebagai upaya menghadirkan ruang pembelajaran lintas budaya yang mendorong peserta untuk memahami, menghargai, dan merayakan keberagaman melalui pengalaman belajar secara langsung di lapangan.
Proyek kreatif yang dikerjakan oleh rekan-rekan mahasiswa USM ini bernaung di bawah nama Puspaloka, yang mengusung tagline di Instagram sebagai "ruang berkarya generasi penggiat budaya lokal". Menariknya, meski diinisiasi oleh kampus USM, gerbang kepesertaan dibuka lebar untuk umum.
Alhasil, petualangan budaya hari itu tidak hanya dipenuhi oleh mahasiswa internal USM saja, melainkan juga diramaikan oleh mahasiswa dari berbagai kampus lain, serta peserta lintas usia—termasuk kami sendiri yang tentu saja sudah bukan berstatus mahasiswa lagi.
Keseruan acara semakin bertambah karena Puspaloka menggandeng Jagad Nusa, sebuah wadah yang bergerak di bidang face painting atau seni lukis wajah tradisional. Sepanjang rangkaian kegiatan berlangsung, tim Jagad Nusa dengan telaten menghiasi wajah-wajah para peserta yang bersedia ikut serta. Sentuhan ornamen lukis wajah ini sukses memberikan impresi estetis yang unik dan memperkuat ikatan budaya di sepanjang acara.
Sebelum rombongan melangkah mengeksplorasi area luar pura, seluruh peserta terlebih dahulu diarahkan ke dalam sebuah ruangan pertemuan. Suasana di dalam aula terasa begitu hidup dan interaktif, seperti yang terekam dalam dokumentasi kami. Pihak tuan rumah atau pengurus pura benar-benar menyambut hangat kehadiran kami beserta rombongan besar Puspaloka dengan keterbukaan yang luar biasa.
Di ruangan inilah sesi pemaparan materi serta pembekalan awal dilakukan. Melalui penjelasan dari pihak pengurus, kami mendapatkan edukasi menarik mengenai tata ruang pura Hindu yang mengadopsi konsep Tri Mandala (tiga tingkatan zona kesakralan), yaitu:
Nista Mandala: Area terluar pura yang berfungsi sebagai zona transisi atau pintu masuk.
Madya Mandala: Area tengah yang digunakan untuk aktivitas umum atau semi-publik. Di aula zona inilah kami semua diterima dan disambut hangat oleh pengurus pura. Karena fungsinya yang lebih umum, peserta perempuan yang sedang dalam masa menstruasi (haid) tetap diperbolehkan berada di zona ini.
Utama Mandala: Area terdalam yang merupakan tempat paling suci dan sakral khusus untuk peribadatan.
Layaknya aturan universal di berbagai tempat ibadah suci lainnya, pengurus pura menyampaikan edukasi dengan sangat komunikatif mengenai batasan di area sakral ini. Salah satu aturan tegasnya adalah larangan bagi peserta perempuan yang sedang haid untuk memasuki kawasan Utama Mandala demi menjaga kesucian tempat pemujaan. Seluruh peserta pun dapat memahami dan menghormati batasan tersebut dengan sangat bijak.
Ada aturan menarik lainnya yang harus dipersiapkan sebelum rombongan diizinkan bergerak menuju area Utama Mandala. Mengingat kawasan tersebut adalah tempat suci, para peserta diwajibkan mengenakan kain selendang pengikat (senteng) khas saat masuk. Pihak pura sebenarnya menyediakan selendang bagi pengunjung, namun bagi yang enggan ribet, peserta dipersilakan membawa sendiri dari rumah.
Menariknya, beberapa peserta laki-laki justru menyiasatnya dengan membawa dan mengenakan kain sarung. Hal tersebut memang diperbolehkan oleh pihak pengelola pura sebagai bentuk penghormatan terhadap etika berpakaian di area tempat ibadah.
Keunikan visual semakin terasa kental saat melihat rombongan peserta perempuan yang sebagian besar merupakan mahasiswi. Mereka tampil sangat totalitas dengan mengenakan kebaya putih lengkap dengan kain jarik dan lilitan selendang berwarna cerah di pinggang, seperti yang terekam dalam dokumentasi kami. Pemandangan ini tidak hanya elok dipandang, tetapi juga menghidupkan atmosfer perpaduan budaya tradisional yang sangat anggun di tengah pelataran pura yang megah.
Melalui kolaborasi Puspaloka x Jagad Nusa ini, mata kuliah Komunikasi Budaya USM berhasil menjelma menjadi ruang interaksi sosial yang sangat inklusif di dunia nyata. Kehadiran para peserta lintas generasi dengan pakaian adat berlatar arsitektur batu hitam khas Bali menciptakan harmoni tersendiri di atas perbukitan Gajahmungkur.
Rombongan tidak sekadar datang untuk berswafoto, melainkan aktif berdialog dengan pengurus pura mengenai esensi moderasi beragama dan sejarah panjang berdirinya pura ini sejak era 1968.
Bagi kami, keikutsertaan lewat jalur pendaftaran mandiri di Instagram ini justru memberi kesan yang lebih otentik. Kami bisa membaur langsung dengan energi muda para mahasiswa, menikmati kreasi seni lukis wajah, melihat kedekatan mereka dengan pengelola tempat ibadah, sekaligus membayar tuntas kerinduan mendokumentasikan Pura Agung Giri Natha tanpa ada cerita yang tercecer lagi di draf blog.
Agenda akhir pekan kemarin ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan dokumentasi bersama, meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana ruang spiritual, pelestarian budaya lokal, dan edukasi publik bisa berjalan beriringan dengan sangat selaras di Kota Semarang.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment