Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juli 2026

Image
Memasuki bulan Juli, atmosfer Kota Semarang rasanya mengalami sedikit pergeseran. Puncak kemeriahan Hari Jadi Kota Semarang sudah kita lalui, dan riuh rendah musim libur sekolah pun perlahan mulai berganti dengan persiapan kembali ke rutinitas. Namun, bukan berarti ibu kota Jawa Tengah ini bakal kehilangan dayanya. Menatap kalender satu bulan ke depan, Juli 2026 justru membawa energi baru yang menyegarkan. Kota ini seperti sedang mengajak warganya untuk bergerak lagi—menjadi lebih bugar sekaligus tetap bersenang-senang dalam balutan agenda yang penuh warna. Sisa Kemeriahan di Awal Bulan Minggu pertama Juli langsung dibuka dengan babak akhir dari Jateng Fair 2026 di PRPP. Berlangsung hingga tanggal 5 Juli, perhelatan ini menjadi destinasi pamungkas bagi warga kota yang ingin menghabiskan sisa liburan. Bukan cuma soal pameran produk dan inovasi daerah, panggung hiburannya yang menghadirkan deretan musisi lokal maupun nasional tetap menjadi magnet kuat bagi pemburu konser di Semarang. Ta...

5 Prediksi Media Sosial 2014 Via Blog Hooutsuite


Apa yang Anda pikirkan tentang media sosial ditahun 2014? Menurut blog hootsuite, salah satu aplikasi media sosial, mereka menuliskannya sekitar 5 tulisan yang ditulis langsung oleh para petinggi mereka. Apa saja?


1. Manajer Media Sosial akan berkurang dan bahkan mati


Semenjak media sosial begitu menggoda banyak orang termasuk perusahaan skala besar dan kecil, banyak sekali pekerjaan baru yang berhubungan dengan media sosial. Salah satunya manajer media sosial.


Tahun 2014 diprediksikan posisi ini akan berkurang. Ini bukan karena media sosial mengalami penurunan tetapi lebih rasa tanggung jawab dari setiap orang yang ada ditempat kerja. Contohnya, saat ini ada 13 lebih pekerjaan di indeed.com yang melibatkan penggunaan media sosial.


Selain itu, sebuah studi baru-baru ini Deloitte, menunjukkan bahwa media sosial sudah banyak digunakan oleh berbagai departemen di seluruh organisasi, pemasaran (78 persen yang menggunakannya), IT (64 persen), penjualan (63 persen), dan layanan pelanggan ( 62 persen). Dan herannya, beberapa divisi lain seperti operasi (46 persen), supply chain operations (36 persen), risk managem (35 persen) dan keuangan (28 persen) telah mengadopsi media sosial untuk bisnis.


Jadi pada tahun 2014, jika Anda bekerja sebagai pengelola media sosial sebuah perusahaan maka carilah waktu luang untuk beristiraha. Karena banyak perusahaan telah mengakui kemampuan media sosial sebagai aset bagi seluruh karyawan mereka.


Sedangkan para pengelola atau manajer media sosial kedepannya akan menjadi ahli digital berpengalaman, berbagi kepada banyak orang maupun organisasi mereka.


2. Sekolah-sekolah Fokus ke Media Sosial Sebagai Aset bukan Kewajiban


Ada yang menarik dari dunia pendidikan saat ini. Dampak media sosial saat ini benar-benar mempengaruhi pendaftaran sebuah perguruan tingginya kelak.


Kita semua telah mendengar cerita dari perekrut memeriksa profil sosial kandidat dan menolak mereka karena apa yang mereka lihat. Dan survei baru-baru ini oleh Kaplan Prep Test, menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari petugas penerimaan perguruan tinggi sekarang melihat profil media sosial pelamar untuk belajar lebih banyak tentang mereka.


Dan buruknya yang didapat, hampir 30 persen dari mereka melaporkan bahwa apa yang mereka lihat secara online sebenarnya banyak melihat medampak negatif prospek pelamar. Sebagai kemampuan media sosial menjadi kompetensi inti di tempat kerja, peningkatan jumlah siswa dan dan kandidat akan ditolak jika mereka tidak memiliki sesuatu yang menarik dan profil sosial yang relevan.


Selanjutnya >>> 2 | 3 | 4


...


Konta kami via email : dotsemarang [at] gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Karnaval Dugderan 2016, Timeline Kurang Menarik

Mengawinkan Modem M3Y dengan Kartu 4G Smartfren

📱 itel P55 5G: Menimbang Rekomendasi AI Google untuk Hape 5G Murah di Bawah 2 Juta

🏢 Dari Hospitality ke Sport Center: Menelisik Ekspansi Seru Gets Group Lewat Gets Courts Semarang

🎬 Sinyal Kebangkitan Film Semarang: Ketika Kompetisi Mulai Punya Taring