Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Selamat Hari Film Nasional Tahun 2020
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Sempat berjalan baik di awal tahun dan diprediksi mendulang banyak penonton hingga 60 juta tahun ini, gara-gara virus Corona semua jadi berantakan. Hari Film Nasional yang berusia ke-70 tahun seolah datang untuk kembali mengajak orang-orang yang terlibat dalam industri ini melihat pekerjaan rumah lainnya yang masih belum selesai.
Di masa depan, ketika kembali menengok artikel ini, kami dapat mengetahui sejarah yang telah terjadi di tahun 2020. Bahwa wabah virus Corona mampu membuat bioskop tutup, orang-orang mulai khawatir keluar, dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Hampir seluruh dunia.
Sungguh menyebalkan memang ketika ini terjadi saat wajah perfilman tanah air yang baru berjalan 2 bulan harus berhenti di bulan berikutnya. Pemilik rumah produksi harus membatalkan film yang sudah masuk daftar jadwal film yang akan ditayangkan.
Film yang baru berjalan hampir sepekan, terpaksa ditarik. Proses syuting yang tidak dapat dilanjutkan, dan kru-kru yang sudah bertahan lama di tempat syuting salah satu kota, harus pulang kembali ke rumah mereka.
Karyawan-karyawan yang harus menganggur di rumah karena tak lagi melayani calon penonton di tempat mereka bekerja. Sudah jatuh, ketiban tangga pula.
Prediksi 60 juta tahun 2020
Informasi jumlah ini kami baca dari situs kompas lewat artikelnya yang berjudul 'Ketua BPI: Akibat Covid-19, Industri Film Mesti Siap Memasuki Paceklik'.
Prediksi ini disampaikan Chand Parwez Servia, Ketua Badan Perfilman (BPI) Indonesia yang juga pengusaha, produser film, dan pemilik rumah produksi PT Kharisma Starvision Plus yang diwawancari Kompas.
Kami senang dengan jumlah tersebut andai tercapai. Tapi sekarang rasanya tidak mungkin setelah melihat kenyataannya bahwa bioskop sedang tutup sementara. Dan Corona, tidak dapat ditebak kapan mulai pergi dari negeri tercinta kita ini.
Tren dan pekerjaan rumah yang belum selesai
Sekarang, orang-orang menyukai nonton film streaming. Sebut saja Netflix salah satunya yang begitu sering dibicarakan. Film-film Indonesia seakan mendapatkan tempatnya yang selama ini terus diperjuangkan dari dunia pembajakan.
Memang tidak bisa sepenuhnya selesai. Meski sudah menutup beberapa situs ilegal penyedia film, selalu ada yang datang lagi. Seperti rumput yang telah dipotong, selalu tumbuh lagi.
Bahkan, beberapa kali kami menemukan pengguna yang mengunggah film Indonesia di kanal Youtube. Tidak masalah sebenarnya menaruhnya di sana, selama itu pemilik hak cipta. Dan kami senang bisa menontonnya tanpa perlu menginstal aplikasi tambahan.
Seperti yang dilakukan rumah produksi Falcon Pictures yang meluncurkan aplikasi bernama KlikFilm. Ini adalah suatu terobosan yang bagus menurut kami. Apalagi dilakukan pemilik dan pembuat film.
Kami pikir ini solusi untuk sedikit mengatasi pembajakan. Hanya saja, apakah masyarakat Indonesia sudah siap membayar untuk berlangganan ketika platform lain juga menawarkan hal yang sama. Sudah lebih dulu dan lebih menarik. Ya, ini tentu tantangan dan kami yakin, Falcon sudah mempersiapkan diri.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Kofindo (@kofindo) pada
Tetap semangat
Tidak banyak yang dapat kami lakukan selain hanya bisa memberikan kata semangat. Kami bukan rumah produksi, bukan pembuat film atau pecinta film yang selalu menonton di bioskop. Akhir-akhir ini, kami sudah membatasin menonton. Tapi kami selalu tersedia saat diajak nonton atau liputan para pemain film yang promo film mereka di Kota Semarang.
Sebagai sebuah akun yang pernah menjadi komunitas, Kofindo sekarang hanya membagikan informasi. Terutama yang ada di Kota Semarang. Fokus kami memang hanya film yang tayang di bioskop, kami masih belum bisa mengangkat sineas lokal.
Pokoknya tetap semangat. Badai pasti akan berlalu. Untuk saat ini, mari bersama-sama merayakan momentum Hari Film Nasional dengan saling memberi semangat. Sampai jumpa tahun depan. ...
Tiap tanggal 30 Maret diperingati Hari Film Nasional. Sedangkan tahun pertama diperingati pada tahun 1950. Waktu itu momentumnya saat hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi yang disutradarai oleh Usmar Ismail.
Selamat Hari Media Sosial, warga Semarang! Tidak terasa, setiap tanggal 10 Juni kita kembali diingatkan bagaimana platform digital telah mengubah cara kita menjalani hidup sehari-hari. Bagi kita yang menetap dan tumbuh di Kota Semarang, media sosial bukan lagi sekadar ruang pamer foto estetik, melainkan penggerak utama dari langkah kaki kita di sudut-sudut Kota Atlas. Mengingat momen ini, kami mendadak teringat dengan tulisan kami tepat setahun yang lalu ( Hari Media Sosial 2025: Mal Semarang Jago Main IG ). Saat itu, kami memberikan apresiasi tinggi kepada tim kreatif dan admin mal di Semarang yang makin jempolan mengelola Instagram. Mereka sukses mengubah akun mal menjadi pusat agenda kota yang interaktif, estetik, dan sangat fast response . Kami bahkan menyarankan pentingnya dorongan konten dan strategi digital untuk meramaikan tempat yang sepi. Setahun berselang, di bulan Juni 2026, lanskapnya ternyata sudah melompat jauh lebih ekstrem. Bukan lagi sekadar jago membuat konten agenda...
Piala Dunia 2026 tinggal hitungan jam saat kami menulis halaman ini. Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang berujung jadi konten. Gara-gara sedang berselancar di Instagram dan menemukan unggahan dari akun resmi TVRI Jawa Tengah yang membagikan daftar lokasi nonton bareng (nobar) resmi, kami langsung tergerak untuk membawanya ke blog. Lagi-lagi ini menjadi ide dadakan. Entah kenapa ingatan kami langsung terlempar pada bulan Februari kemarin, saat kami sedang bersepeda santai menuju Car Free Day (CFD) Simpang Lima. Waktu itu, kami sempat berpapasan dengan kampanye promosi berbau Piala Dunia 2026 . Aktor di balik layarnya ternyata masih sama: TVRI Jawa Tengah, sang pemegang hak siar resmi lewat program global mereka yang bertajuk "Bola Gembira" . Karena gelaran sepak bola terakbar ini hanya datang empat tahun sekali, kami pikir tidak ada salahnya ikut memeriahkan euforianya lewat coretan di blog. Apalagi aturan hak siar dan izin nobar sekarang semakin ketat. Membagikan tempat...
Setiap kali melintas dan memotret megahnya bangunan SMC RS Telogorejo Semarang dari luar, terselip tanya dalam hati: kapan ya ada kesempatan untuk menengok bagian dalamnya? Maklum, jika tidak ada kepentingan medis yang mendesak, tentu rasanya canggung untuk sekadar berkunjung. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sebuah momentum menarik datang bersamaan dengan digelarnya sebuah acara yang materinya sangat bersinggungan dengan aktivitas olahraga yang rutin kami geluti. Semesta seakan merestui rasa penasaran kami. Pihak rumah sakit menggelar hajatan besar bertajuk The Spark of Healthy Life: 3 in 1 Mega Seminar & Talkshow 2026 . Begitu pendaftaran dibuka melalui akun Instagram resmi @rs.telogorejo, kami langsung mendaftarkan diri. Beruntung, nama kami lolos kurasi untuk hadir pada hari kedua, Jumat, 22 Mei 2026, yang bertempat di Auditorium Lantai 3 Gedung Cattleya. Namun, tantangan langsung menghadang tepat di hari H. Hujan deras mendadak mengguyur Kota Semarang, memaksa kami untuk menerjang...
Pertengahan tahun di Kota Semarang rasanya belum lengkap kalau belum membahas kompleks PRPP Jawa Tengah di kawasan Anjasmoro. Ya, gelaran pesta rakyat terbesar di Jawa Tengah, Jateng Fair 2026, sudah resmi masuk dalam radar agenda kota bulan ini. Bagi kamu yang sudah mulai mencari tahu kapan event ini dimulai, catat tanggalnya: Jateng Fair 2026 akan berlangsung selama 10 hari, mulai dari tanggal 26 Juni hingga 5 Juli 2026. Format durasi yang lebih padat ini tampaknya kembali dipertahankan oleh pihak penyelenggara, PT PRPP Jawa Tengah. Sama seperti tahun lalu, kebijakan tiket masuk gratis juga kembali diterapkan untuk menarik antusiasme masyarakat secara massal ke area pameran . Namun, perlu dicatat ya! Gratis di sini hanya berlaku untuk memasuki area kompleks pameran dan stan Jateng Fair saja. Bagi kamu yang mengincar keseruan panggung hiburan musiknya, tetap diwajibkan mengantongi tiket masuk berbayar. Dengan target yang dipatok hingga 300 ribu pengunjung, apakah Jateng Fair t...
Setelah euforia hari pertama soft opening berlalu, kami penasaran untuk menjajal nekat bersepeda menuju kawasan POJ City. Tujuannya apalagi kalau bukan melihat langsung mal yang digadang-gadang terbesar di Jawa Tengah, Mal 23 Semarang . Tantangannya tentu lebih seru kali ini karena kami datang dengan cara gowes. Siapa sangka pada Minggu pagi, 24 Mei 2026, kami benar-benar melakukannya. Meski ini bukan kali pertama kami bersepeda ke arah pesisir, tetap saja semangat dan antusiasmenya terasa berbeda karena ada magnet baru di sana. Jika biasanya rute Minggu pagi dihabiskan ke CFD Simpang Lima, kali ini kemudi sepeda kami arahkan menuju kawasan Marina. Jaraknya dari pusat kota sendiri berkisar sekitar 8,7 km. Di media sosial, pembicaraan tentang 23 Semarang Shopping Center memang luar biasa masif. Tidak heran begitu kami tiba di lokasi, suasananya persis seperti yang dibayangkan: ramai dan penuh antusiasme. Beberapa waktu belakangan, tren FOMO (Fear of Missing Out) di Kota Semarang memang...
Comments
Post a Comment