Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026

Image
Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...

Pertama Kali Naik Bus Trans Jateng


Tujuan acara buka puasa kali ini adalah hotel yang satu manajemen dengan Harris Hotel yakni The Wujil Resort & Conventions yang berada di Ungaran. Jaraknya tidak tanggung-tanggung (Kabupaten Semarang). Jika gunakan transportasi online, bisa jebol kantong kami.

Selasa menjelang sore (14/5), kami memutuskan berangkat dari halte Trans Semarang yang berada di jalan Majapahit menuju kawasan Pemuda. Di sana, saran petugas bus buat kami bila ingin naik bus Trans Jateng.

Strategi waktu itu sangat penting

Bila menggunakan kendaraan sendiri tentu tidak masalah. Pengalaman pertama menggunakan Trans Jateng menurut kami sangat penting. Terutama dari sisi konten.

Kami lupa bahwa Ungaran dari Semarang itu jauh. Undangan buka bareng adalah jam 5 sore. Dan kami sudah menunggu di halte jam 3 sore lebih.

Tantangannya di sini, kedatangan bus Trans Semarang memerlukan waktu yang tidak diprediksi. Kali ini begitu lama untuk kami yang ingin sampai tepat waktu.

Akhirnya yang ditunggu tiba. Dalam perjalanan, macet dan berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang adalah hal yang harus diperhitungkan untuk efisiensi waktu.

Setelah tiba di halte Trans Jateng yang lebih kecil dari halte Trans Semarang yang ada di jalan Pemuda, kami sadar bahwa strategi waktu sangat penting untuk perjalanan berikutnya.

Tidak menerima GoPay

Kami masih merasa gelisah meski sudah menunggu di halte Trans Jateng. Ternyata butuh waktu juga menunggu kedatangan bus. Kebanyakan bus Trans Semarang yang berhenti di halte sebelah.

Setelah bus yang ditunggu tiba, kami beserta beberapa penumpang yang tidak banyak ini sudah berada di dalam bus.

Karena pertama kali kami masih berpikir pembayaran seperti naik bus Trans Semarang, yakni menggunakan GoPay.

Harapan kami untuk lebih mudah dan lebih hemat (biasanya dapat potongan 50%) rupanya tidak tersampaikan.

"Maaf mas, pakai uang biasa saja", kata petugas.

Wajah kami langsung berubah dan kemudian sedikit tenang bahwa uang di dompet kami masih ada yang biasa. Maksudnya bukan uang elektroinik.

Jarak yang panjang, waktu yang terbuang

Jam di ponsel kami sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Ah kacau kalau begini. Mungkin pemikiran kami harus diubah untuk bisa datang saja udah syukur, ketimbang mau datang tepat waktu.

Dalam perjalanan, jalur bus Trans Jateng yang masih berada di Semarang sebenarnya sama saja dengan jalur Trans Semarang untuk menaikkan penumpang atau pun menurunkan.

Karena halte yang dekat dengan hotel The Wujil itu berada di Ungaran, bus Trans Jateng tiap bertemu halte, maka tentu harus berhenti.

Entah berapa banyak halte yang disinggahi. Tiap beberapa kilometer, selalu ada halte dan waktu yang mau tidak mau harus dibuang.

Halte The Wujil

The Wujil

Dengan membayar 4 ribu rupiah, ternyata naik harganya, akhirnya kami tiba di halte dekat hotel The Wujil. Meski terlambat, kami sampai juga.

Ada dua pemandangan yang menarik perhatian kami. Halte yang menjadi pemberhentikan kami ini rasanya kurang menarik. Tidak ada atap dan fasilitas tempat duduk pada umumnya.

Pemandangan kedua adalah suasana sore menjelang buka puasa di jalan. Banyak muda-mudi sedang ngabuburit yang diikuti penampilan semacam marching band dan bagi-bagi takjil.


Saat pulang, tidak memungkinkan menggunakan bus Trans Jateng kembali, kami ikut patungan membayar transportasi online bareng para bloger. Meski lebih mahal dari harga tiketing bus, setidaknya tidak ribet menuju pulang.
..

Perjalanan kami selesai sudah dengan sampai tujuan dengan selamat. Begitulah pengalaman kami kali ini yang pertama kali naik bus Trans Jateng.

Meski terlambat, kami menikmati setiap perjalanan. Menyenangkan tentu saja untuk mendapatkan pengalaman. Menyedihkan, selalu ada dalam cerita.

Di masa depan, maksud kami bila ada perjalanan seperti ini lagi keluar dari Semarang, kami harus memikirkan durasi waktunya.

Hemat boleh saja berharap, namun tanpa strategi waktu dan kondisi (baca keuangan), bisa saja ceritanya jadi berbeda. 

Artikel terkait :
Informasi Kerjasama
Hubungi lewat email dotsemarang@gmail.com
Atau klik DI SINI untuk detail lebih lengkap

Comments

Popular posts from this blog

📱 Hari Media Sosial 2026: Antara FOMO Mal 23 & Gramedia Jalma, Serta Gagapnya Manajemen Krisis Digital

🏃‍♂️ Catatan Hari Kedua The Spark of Healthy Life 2026: Mengulas Cedera Olahraga Bersama Para Ahli

⚽️ Berburu Lokasi Nobar Resmi Piala Dunia 2026 di Kota Semarang: Siasat Hotel "Ganti Baju" hingga Markas Instansi

🎡 Agenda Jateng Fair 2026: Kembali Hadir 10 Hari dengan Tiket Masuk Gratis, Apa yang Baru?

🚲 Gowes ke Mal 23 Semarang: Di Mana Tempat Parkir Sepedanya?