Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan April 2026

Image
Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...

Makan Nasi Jagung Putih Ala Desa Sepakung


Sambutan hangat dari warga Sepakung, terutama orang-orang yang tergabung dalam sadar wisata atau Pokdarwis membuat kami nyaman. Ditambah makan siang ala desa dengan menu istimewa, nasi jagung berwarna putih. Apakah kamu pernah menyantapnya?

Setelah tiba dengan selamat dari perjalanan sebelumnya, rombongan bloger diajak masuk ke salah satu rumah warga. Rombongan kami tidak sendiri, ada rombongan lain yang berasal dari Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang yang mendampingi.

Makan siang yang menggugah


Kamar mandi satu-satunya dalam rumah warga, menjadi tempat pertama kali yang dituju. Mau tidak mau, terpaksa antri karena berbagai kepentingan yang tidak dapat ditunda.

Sambil menunggu antrian, tuan rumah sudah menyiapkan makan siang yang istimewa. Hari itu adalah makan siang yang menggugah selera semua rombongan.

Nasi jagung yang mencuri perhatian


"Selamat menikmati makanan ala desa", salah satu bapak yang sepertinya terbiasa menyambut tamu seperti kami.  Sambil menunjuk salah satu menu yang mencuri perhatian kami, nasi jagung berwarna putih.

Yang kami tahu, nasi jagung biasanya berwarna kuning. Tapi tidak di sini. Rasanya pun sedikit berbeda dari apa yang kami rasakan.

Campuran lauk berupa ikan dengan bumbu bertabur cabai memberi sensasi yang sangat nikmat. Entah apakah karena suasana juga mendukung, perjalanan panjang yang mendebarkan atau karena lapar?

Saat melahap dengan nikmat, minuman jus segar dari jambu yang berwarna pink tanpa sadar menambah selera kami untuk tambah. Dua ikan habis di piring kami tanpa celah. Luar biasa.

Beberapa menu makanan lain sebenarnya masih tersedia di depan kami, entah kenapa kami masih fokus pada kedua makanan ini.


Ups, fotonya kurang bagus 

Sambil makan, kami mendengarkan beliau-beliau bercerita dan sangat senang dengan kehadiran bloger yang memiliki tujuan untuk mengangkat sisi pemasaran desa mereka.

Mereka berharap banyak lagi informasi dapat disebarkan tentang potensi desa yang mereka bungkus dalam paket wisata, seperti membuat gula semut, wisata cara membuat kopi, paket meres susu dan lainnya.


Bahkan, tiap minggu ada saja bookingan dari Jakarta yang ingin berwisata. Biasanya rata-rata oran-orang yang ke desa menginap sampai 4 hari (maksimal). Tentu dengan paket yang tersedia.

...

Baik-baik, tidak perlu menunggu lama lagi. Kita langsung menuju lokasi pertama yang ditemani para Pokdarwis. Karena medannya sulit dilalui kendaraan yang kami gunakan, kami menggantinya dengan mobil bak terbuka.

Berikutnya Helipad, spot tinggi yang melelahkan namun mengasyikkan.

Artikel terkait :
Informasi Kerjasama
Hubungi lewat email dotsemarang@gmail.com
Atau klik DI SINI untuk detail lebih lengkap

Comments

Popular posts from this blog

☕ Mencicipi Coco Latte: Saat Hydro Coco dan Anomali Coffee "Salaman" di Pelataran MAJT

📌 Agenda Kota Semarang Bulan April 2026

🏥 Menjelajahi Lantai 3 Cardea Semarang: Zona 'Recovery' yang Naik Kelas

♻️ Jangan Dibuang! Jejak Karbon di Balik Kotak Nasi Buka Puasa Masjid Agung Jawa Tengah

📱 Dilema Android Lawas di Tahun 2026: Mengapa Versi OS Kini Lebih Penting daripada Sekadar Merek Hape