Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026

Image
Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...

Kapan Indonesia Kembali Terbang Lepas?


Kami sedang menuju lokasi Paralayang Kemuning. Langit yang cerah, angin yang membuat rambut terhempas ke belakang dan suasana hijau yang masih asri. Keindahan alam yang membentang terlihat dari sini. Indonesiaku, kembalilah bebas dan terbang lepas seperti sebelum Koronavirus.

Apa kabar negeriku? Sungguh ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa pandemi Corona berhasil mengekang dan membuat khawatir semua negeri. Apalagi, sebentar lagi, negeri tercinta ini akan merayakan Hari Kemerdekannya yang Ke-75 tahun.

Setiap hari, kabar berita yang terlintas di media sosial jadi bagian cerita. Ada getir yang mengkhawatirkan. Ada amarah ketika orang-orang tidak peduli dengan amanah yang terus disampaikan pemerintah. Padahal sangat mudah, berdiam diri di rumah.

Saat para tenaga medis berjuang di garda terdepan, segelintir orang masih saja membuat kesal. Kami memang tidak bisa mengatur hak asasi manusia, tapi perkataan dan pernyataannya di media sosial terkadang membuat berang.

Berjuang atau bertahan

Kami akhirnya berhasil sampai lokasi, orang-orang yang biasa melakukan aksi paralayang sudah bersiap mengajak kami yang mau ikut terbang bersama mereka. Karena terbatas, kami adalah orang pertama yang keluar dari barisan pendaftar.

Mereka yang terbiasa terbang dengan parasut tentu orang berpengalaman. Jangan ragu untuk mencobanya karena sesungguhnya terbang bersama mereka adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Saat membayangkan terbang bersama, kami kembali tersadar bahwa bayangan indah negeri ini hanya bisa dilihat dari atas. Pegunungan yang hijau, pohon-pohon yang rindang, dan atap rumah yang berwarna-warni. 

Sebenarnya? Jalanan sudah sepi (pembatasan), tempat ibadah yang ditulisi ditutup sementara, tempat nongkrong yang bisa dihitung dengan jari jemari dan pusat-pusat bisnis yang mau tidak mau antara hidup dan mati.

Kami berjalan di sekitar tempat tinggal kami, mengamati orang-orang yang masih bertahan. Pengumuman untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan seakan tak berarti. Apa mau dikata, kebutuhan harus terpenuhi. Penghasilan harus tercukupi. 

Instagram dotsemarang
Bila seperti ini, mereka berada diantara berjuang atau bertahan?

Banyak sudah informasi orang-orang yang terdampak penutupan pusat bisnis maupun pengurangan gaji. Mereka yang kepalang tanggung berjuang atas nama keluarga, hanya terus berharap bantuan pemerintah dan warga. PHK oh PHK.

Apa yang bisa kita lakukan jika begini?

Pemerintah terus berupaya meski dianggap kurang mengerti kelas masyarakat yang sedang berjuang menghidupi sehari-hari. Saat ingin menjalankan aturan dari pusat, Kepala Daerah harus memutar otak agar masyarakatnya tidak terdampak.

Semarang memilih PKM atau Pembatasan Kegiatan Masyarakat bukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Ini dirasa cocok bagi warga Semarang. 

Namun tetap saja, ini masih sulit. Setiap orang memiliki alasannya masing-masing, apalagi di bulan Ramadan. Ada rindu yang harus tersampaikan, meski harus melawan aturan. Tahun ini, bukan tahun untuk mudik atau pulang kampung.


Mari kita berbicara. Duduk dan dengarkanlah tentang ini. Mari kita sembuhkan Indonesia bersama-sama yang dimulai dari mencintai diri sendiri.

Taati himbauan ketika keluar rumah yang tak begitu penting. Gunakan masker bila terpaksa. Jaga kesehatan dengan pola menu makanan sehat, tidur yang cukup dan keluarkan keringat ketika tubuh masih bersemangat. Cukup 15-30 menit untuk berolahraga.

Berpartisipasilah bersama-sama ketika ada program mencegah koronavirus di lingkungan warga. Dan tahan dirilah meski berat karena hak beribadah seakan direnggut.

Semua demi kita, masyarakat, dan Indonesia. Agar segera pulih dan kembali terbang lepas sebagai bangsa yang besar. 

Bangsa yang saling bersilaturahmi, saling mengisi, bercengkrama bersama dan saling tolong menolong. Bila bukan kita, siapa lagi yang dapat membantu Indonesia bebas COVID-19.

...

Kami akhirnya kembali ke bus yang membawa kami dari Semarang. Kemarin, mengunjungi tempat wisata rasanya sangat menyenangkan. Namun sekarang jadi tantangan. Tempat wisata benar-benar jadi salah satu paling kena dampak.

Indonesia harus kembali normal. Merayakan keberagaman dalam satu ucapan, Selamat Ulang Tahun Indonesia yang ke-75 tahun. 

Mari membuang kekhawatiran, saling mendukung satu sama lain, bertahan dengan sikap optimis dan mencintai diri sendiri agar Corona segera pergi. Apapun agamanya, mari doakan negeri ini kembali seperti sedia kala.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

📱 Hari Media Sosial 2026: Antara FOMO Mal 23 & Gramedia Jalma, Serta Gagapnya Manajemen Krisis Digital

🏃‍♂️ Catatan Hari Kedua The Spark of Healthy Life 2026: Mengulas Cedera Olahraga Bersama Para Ahli

⚽️ Berburu Lokasi Nobar Resmi Piala Dunia 2026 di Kota Semarang: Siasat Hotel "Ganti Baju" hingga Markas Instansi

🎡 Agenda Jateng Fair 2026: Kembali Hadir 10 Hari dengan Tiket Masuk Gratis, Apa yang Baru?

🚲 Gowes ke Mal 23 Semarang: Di Mana Tempat Parkir Sepedanya?