Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026

Image
Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...

Mustika Rasa On Stage Kota Semarang: Kembali Ke Siklus Lokal

Menutup akhir tahun 2021, Kota Semarang didapuk menjadi kota pertama acara yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menghadirkan Mustika Rasa On Stage. Seperti apa acara berlangsung dan suasananya?

Entah apakah ini semacam kebetulan atau keberuntungan, tempat yang digunakan untuk acara adalah tempat yang sudah beberapa kali kami kunjungi sebelumnya. Jodoh?

Jumat siang (24/12), bertempat di Oud En Nieuw, kami turut hadir yang di mana undangannya sebagian besar di dominasi awak media dan beberapa bloger seperti kami. Tentu, ada pejabat juga yang hadir dan beberapa undangan lainnya yang namanya tidak asing di telinga, seperti PHRI atau Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Semarang.

Kick Off 

Yang membuat kami bangga datang ke acara ini adalah Kota Semarang yang dijadikan Kota Pertama dari acara yang akan juga dilaksanakan beberapa Kota berikutnya.

Alasannya, karena Kota Semarang termasuk salah satu kota di Indonesia yang berhasil dalam hal akulturasi budaya. Kami senang mendengarnya.

Identitas Bangsa lewat makanan

Pak Deputi

Dalam acara yang dimulai pukul setengah dua siang ini, bahkan disiarkan langsung via Zoom, ada beberapa nama yang dihadirkan. 

  • Ir, Prakoso,M.M, Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan.
  • JJ Rizal, Sejarahwan.
  • Hardian Eko Nurseto, finalis Master Chef Indonesia Season 8.
Kami jadi teringat dengan spanduk-spanduk di beberapa ruas jalan yang mempromosikan kuliner dari negara lain. Rasanya seperti diberi pencerahan datang ke acara ini untuk kembali mencintai kuliner lokal atau Nusantara.

Paragraf di atas mendadak hadir saja dalam pikiran kami saat sambutan pembicara menyeletuk tentang 'kebanyakan kuliner dari luar negara, di mana kuliner di negeri sendiri".

Lalu, bagaimana dengan kaitannya dengan Pancasila? Awalnya kami masih memperhatikan buku yang sangat tebal yang berada di meja para pembicara dan Wakil Wali Kota.


Buku yang berjudul Mustika Rasa adalah kumpulan resep masakan dari berbagai daerah di Indonesia. Buku yang lahir atas gagasan Presiden Ir. Soekarno ini berisi 1.600 lebih resep masakan.

Bisa kebayang, andai saja kami dapat menghapal semua resep, ah tidak sebagian saja itu sudah cukup, rasa cinta terhadap Bangsa Indonesia begitu besar. Dari sisi makanan saja, yakni dengan mengenal pangan seluruh tanah air, ada rasa bangga yang hadir sebagai warga negara Indonesia.

Sepertinya inilah garis besar dari acara yang diselenggarkan BPIP yang ingin melakukan Pembudayaan Ideologi Pancasila dan Gotong Royong lewat pendekatan kuliner.

Kelas memasak


Kami pikir acara akan membosankan seperti biasanya yang kebanyakan hanya mendengar, namun ternyata tidak. Ketika sesi Chef Hardian berbicara, ternyata kami dan undangan langsung diajak mengikuti kelas memasak.

Chef memilih membuat Perkedel Ambon yang diambil dari salah satu resep yang ada di buku Mustika Rasa. Perkedel dipilih karna di dalam buku terdapat 16 resep tentang makanan tersebut. Dan pilihannya jatuh ke perkedel Ambon yang dianggap unik dari sisi bentuk. 

Menurut Chef, Perkedel Ambon ini bisa ditemukan juga di Meksiko. Sekilas mirip meski ada beberapa perbedaan dari sisi bahan. 
Salah satu rekan bloger kami diundang untuk menemani Chef memasak. Kami pikir rekan kami yang berpengalaman memang mudah beradaptasi. Kami senang mendengarnya saat dipuji dari Mbak Iren, BPIP.

Apa saja diviralkan

Tentang kelas memasak, nanti kami tulis lebih lanjut di halaman berikutnya. Kelas memasak sudah, dan acara berlanjut ke sesi diskusi.

Perkedel Ambon

Saat ini, tren makanan naik. Apa saja di-viralkan. Ada rasa kekhawatiran dari diskusi yang kami dengarkan. Wajar bila budaya luar masuk lewat makanan. 

Kita kembali ke siklus lokal. Karena arus balik ini besar, maka kita harus mengelolanya dengan baik. Peran besar dari media dan para blogger sangat berpengaruh untuk ini. Jangan hanya tentang rasa, namun juga bagaimana membangun narasinya.

Ada pertanyaan menarik yang diberikan kepada pembicara tentang bagaimana caranya agar anak makan makanan Indonesia? Ini bisa dimulai dari dapur rumah menurut Chef yang juga mempraktekkan ini pada keluarganya. Orang tua memasak makanan Indonesia

Atau jangan-jangan pengetahuan generasi muda tidak tahu karena orang tuanya tidak memasak, celetuk salah satu pembicara. Apalagi kita tahu, apa yang kita makan adalah simbol identitas sosial.

Live streaming

Woh, sudah sangat panjang sekali kami menulis ini. Bila kamu masih penasaran dengan acara, bisa menyaksikan siaran ulangnya yang sudah diunggah di YouTube di bawah ini.

...

Kami tidak menyangka, berbicara hal tentang makanan atau kuliner, bisa menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan terhadap Bangsa Indonesia. Pengetahuan kami tentang makanan lokal benar-benar masih minim. Kami harap tahun 2022, kami bisa lebih banyak lagi mengangkat soal makanan lokal dari Kota Semarang.

Ah iya, ada senyum merekah dari rekan kami yang tadi menemani Chef memasak. Ia sempat berbicara kepada kami, semoga buku yang ia pegang dari tadi (Mustika Rasa) bisa dimilikinya. Dan kejadian, ia berhak mendapatkannya. Selamat, Mas Nuno.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

📱 Hari Media Sosial 2026: Antara FOMO Mal 23 & Gramedia Jalma, Serta Gagapnya Manajemen Krisis Digital

⚽️ Berburu Lokasi Nobar Resmi Piala Dunia 2026 di Kota Semarang: Siasat Hotel "Ganti Baju" hingga Markas Instansi

🏃‍♂️ Catatan Hari Kedua The Spark of Healthy Life 2026: Mengulas Cedera Olahraga Bersama Para Ahli

🎡 Agenda Jateng Fair 2026: Kembali Hadir 10 Hari dengan Tiket Masuk Gratis, Apa yang Baru?

🚲 Gowes ke Mal 23 Semarang: Di Mana Tempat Parkir Sepedanya?