Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026

Image
Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...

🎧 Mendengar dari Hati: Begini Tekodeko Semarang Merayakan Hari Disabilitas Internasional 2025

Tepat setiap tanggal 3 Desember, dunia merayakan Hari Disabilitas Internasional (HDI) sebagai momen refleksi dan aksi nyata menuju kesetaraan. Di Kota Semarang, peringatan tahun ini dirayakan dengan cara yang hangat dan mendalam, berkat inisiatif dari Tekodeko Coffee Shop.

Mengusung tema lokal 'Mendengar dari Hati', perayaan ini bukan hanya acara seremonial, melainkan rangkaian kegiatan yang membuka mata dan hati kami tentang pentingnya empati serta komunikasi yang setara.

💖 'Mendengar dari Hati': Empati di Tengah Kota Lama

Kami harus jujur, seringkali kami sendiri luput mencermati momen HDI ini, sampai akhirnya undangan dari owner Tekodeko—teman lama yang aktif di Kota Lama—lewat pesan WhatsApps.

Perayaan ini berlangsung cukup panjang, mulai dari 3 Desember hingga 8 Desember, menghadirkan dua program utama yang saling mendukung: Magang Inklusif dan Workshop 'Menyelami Dunia Tuli, Mendengar Tanpa Suara'.

Kami hadir di acara puncaknya, yaitu workshop yang diadakan pada tanggal 6 Desember di Tekodeko. Tema 'Mendengar dari Hati' benar-benar terimplementasi sempurna. Ini bukan hanya tentang indra pendengaran, melainkan tentang empati, kemauan untuk memahami tanpa prasangka, dan menciptakan ruang komunikasi yang setara bagi semua warga Semarang.

🤟 Merangkai Jembatan Komunikasi Lewat Bahasa Isyarat

Suasana workshop di Tekodeko sangat khidmat namun penuh kehangatan. Semua peserta, didominasi oleh perempuan dan kalangan Gen Z, terlihat sangat fokus pada instruktur difabel yang memimpin sesi.

Kami sendiri tanpa sadar ikut hanyut saat pemateri mengajarkan dasar-dasar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Mulai dari isyarat huruf, angka, hingga ucapan-ucapan sehari-hari seperti Terima Kasih, Salam Kenal, dan Selamat Pagi. Pembelajaran ini terasa sangat penting; ini adalah cara paling nyata bagi kita di Semarang untuk benar-benar "Mendengar dari Hati" komunitas Tuli.

Workshop sendiri untuk umum yang mengadakan adalah Rekaloka. Ada 3 pembicara yang mengisi materi :

  1. Bebe Stevie, founder Peduli Isyarat Semarang yang berbagi tentang pengetahuan dunia tuli.
  2. Stefanus Ming, Juru Bicara Isyarat (JBI). Berbagi tentang etika sebagai orang dengar.
  3. Dimas, Ketua Tim Kelas Bisindo Semrang. Berbagi tentang bahasa isyarat Indonesia.

Magang Inklusif: Transformasi Karir di Kedai Kopi

Jika workshop fokus pada komunikasi, program Magang Inklusif yang diadakan hampir seminggu penuh ini adalah aksi nyata dalam pemberdayaan ekonomi. Karena penasaran, kami langsung mewawancarai owner kedai kopi legendaris di Jalan Kepodang Nomor 64 ini.

Owner menjelaskan bahwa program magang ini memberikan kesempatan kepada beberapa Teman Tuli untuk berkarir di sektor F&B. Ini bukan kali pertama; respon yang bagus selama tiga tahun terakhir membuat mereka harus mengadakan seleksi ketat tahun ini.

Kesetaraan dalam Pekerjaan: Menurut owner, tidak ada perlakuan yang dibeda-bedakan. Mereka diperlakukan layaknya karyawan normal lainnya.

"Teman-teman Tuli yang magang ini fisiknya kuat, semangat kerjanya tinggi, hanya kurang dari sisi pendengaran saja. Kami samaratakan perlakuannya," ujar owner dengan antusias.

Saling Belajar dan Bergosip di Balik Meja Bar: Yang paling menarik, suasana kerja antara karyawan tetap dan peserta magang Teman Tuli penuh semangat. Karyawan tetap mengaku mendapat pengalaman baru dan ikut belajar Bahasa Isyarat untuk mempermudah komunikasi.

"Kami bahkan sekarang sudah bisa saling ajak bergosip [lewat isyarat]," canda owner yang senang melihat atmosfer inklusif tersebut.

Tentu saja ada tantangan, seperti mencari solusi untuk kata-kata yang sulit diisyaratkan, namun solusinya sederhana: mereka mencari isyaratnya atau Teman Tuli memahami dari mimik muka dan gestur tubuh. Mereka saling antusias; Teman Tuli antusias belajar melayani pelanggan dan menyiapkan pesanan, sementara karyawan tetap bersemangat mengajari.

Harapan Pasca-Magang: Tujuan utama owner adalah agar Teman Tuli yang belajar di sini tidak canggung lagi menghadapi lingkungan kerja baru di mana pun nantinya, tidak harus di bidang F&B.

Suara Langsung dari Teman Tuli: Kami juga mendapat kesempatan mewawancarai salah satu peserta magang Teman Tuli, didampingi owner sebagai juru bahasa isyarat. Saat ditanya tentang pekerjaan yang dilakukan, ia menyebutkan berbagai peran, mulai dari kasir, melayani pelanggan, bersih-bersih, hingga meracik minuman.

Harapan mereka sangat sederhana dan kuat: Mereka sangat suka bekerja di sini dan ingin mendapatkan kesempatan serupa di masa depan. Bekerja di kafe ini memberi mereka banyak ilmu dan pengalaman baru.

🚀 Menuju Perubahan Transformatif: Koneksi Global

Acara "Mendengar dari Hati" di Semarang ini ternyata memiliki relevansi kuat dengan agenda global. Kami sempat menelusuri Tema Hari Disabilitas Internasional 2025 yang dicanangkan PBB:

"Accelerating transformative change: inclusive development, climate action, and digital accessibility for all.

(Terjemahan: "Mempercepat perubahan transformatif: pembangunan inklusif, aksi iklim, dan aksesibilitas digital untuk semua.")

Jika dikaitkan, acara Tekodeko ini adalah langkah praktis untuk mencapai tujuan global tersebut:

  1. Magang Inklusif (Pembangunan Inklusif): Program ini secara langsung menyediakan peluang kerja dan kemandirian ekonomi, yang merupakan pilar utama Pembangunan Inklusif.
  2. Workshop Bahasa Isyarat (Aksesibilitas Digital/Komunikasi): Menghilangkan hambatan komunikasi adalah langkah mendasar menuju Aksesibilitas Digital, karena ini mempermudah kolaborasi dan kreasi konten yang lebih inklusif.

Melalui tema lokal yang fokus pada empati, "Mendengar dari Hati," Kota Semarang melalui inisiatif Tekodeko telah mengambil langkah nyata dan mendasar untuk berkontribusi pada upaya global "Mempercepat Perubahan Transformatif" PBB.

Lalu, pertanyaan penutup kami: Apakah program magang inklusif yang sukses ini akan kembali diadakan?

Jawabannya melegakan. "Ya, kami akan mengusahakannya!" tutup owner dengan senyum.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

📱 Hari Media Sosial 2026: Antara FOMO Mal 23 & Gramedia Jalma, Serta Gagapnya Manajemen Krisis Digital

⚽️ Berburu Lokasi Nobar Resmi Piala Dunia 2026 di Kota Semarang: Siasat Hotel "Ganti Baju" hingga Markas Instansi

🏃‍♂️ Catatan Hari Kedua The Spark of Healthy Life 2026: Mengulas Cedera Olahraga Bersama Para Ahli

🎡 Agenda Jateng Fair 2026: Kembali Hadir 10 Hari dengan Tiket Masuk Gratis, Apa yang Baru?

🚲 Gowes ke Mal 23 Semarang: Di Mana Tempat Parkir Sepedanya?