Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026

Image
Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...

[Review Event] Millenial Parenting Talk


Tantangan orang tua generasi milenial adalah mendefinisikan dan belajar mengambil keputusan. Tidak jauh beda dengan generasi sebelumnya, yang membedakan hanyalah cara mengambil keputusannya.

Sabtu malam (16/11), kami menghabiskan malam Minggu kami di SMI Building yang sedang mengadakan acara SMI Creative Fest 1.0 dalam rangka soft opening gedung baru.  Millenial Parenting Talk merupakan salah satu rangkaian acaranya.

Tema yang menarik

Alasan kami hadir di sini karena tema yang diusung sangat menarik. Orang tua kekinian dan tentang generasi milenial. Kami berharap dapat melihat seperti apa sepak terjang orang tua sekarang yang memiliki anak. Bagaimana pola asuhnya, teknologi yang menemani dan ciri-ciri lainnya.

Amelia Hirawan, Direktur Sinergia Consultant (IG @ameliahirawan)

Amelia Hirawan adalah pembicara dari acara yang dijadwalkan dimulai dari jam 5 sore hingga 7 malam. Beliau sendiri merupakan alumnus Psikologi Unika Soegijapranata 2000 dan Alumnus Profesi Psikolog Unika Soegijapranata 2002. Dan masih banyak lagi rekam jejaknya yang mudah dilihat di mesin pencari.

Beliau yang tinggal di Surabaya ini memulai acara dengan slide persentasi yang menerangkan tiap generasi yang dimulai dari generasi pertama atau disebut tradisional hingga milenial.

Sebagian besar peserta yang hadir rupanya adalah orang tua milenial dan beberapa membawa putra-putri mereka. Sedangkan peserta lainnya tidak begitu banyak yang hadir dari kalangan anak muda (masih tahap berencana berkeluarga). Dan yang menarik perhatian adalah satu peserta yang berasal dari kalangan baby boomers.

Ciri generasi milenial

Tak banyak slide yang menyinggung bagaimana kiprah orang tua generasi milenial. Karena acara sendiri oleh pembicara dibuat semacam workshop. Para peserta akhirnya dibagi dalam beberapa kelompok.

Salah satu slide yang menarik kami untuk dibicarakan adalah tentang karakteristik generasi milenial, ciri-cirinya sebagai berikut :
  1. Tidak sabaran
  2. Percaya diri/optimis
  3. Munculkan ide-ide baru
  4. Tidak suka jadwal yang detil
  5. Spontanitas tinggi
  6. Komunikasi digital
  7. Cara belajar 'on demand'.
Tantangan orang tua generasi milenial


Tidak perlu waktu berlama-lama, para peserta yang sudah dibagi beberapa kelompok diajak menuliskan tentang sifat orang tua yang diharapkan menjadi sesuatu yang teladan atau disukai.

Dalam kelompok yang diisi 5-6 orang tersebut masing-masing menuliskan satu ciri. Peralatan tulis dan kertas besar sudah disiapkan. Dan diperoleh hasil 5 lembar kertas, jumlah dari kelompok.

Hampir seragam dari ciri-ciri yang dipersentasikan tiap kelompok. Peserta menganggap, menjadi orang tua yang memiliki ciri yang baik merupakan hal yang diinginkan setiap anak. Ciri-ciri tersebut seperti disiplin, memberikan waktu kepada anak, mendengarkan, menjadi teladan dan lainnya.

Tantangan orang tua generasi milenial menurut pembicara adalah mendefinisikan dan belajar mengambil keputusan. Karena bila tidak dapat mendefinisikan masalah, pada akhirnya tidak bisa mencari alternatif.

Mendidik anak

Ketika anak kita memiliki masalah, kita tidak boleh langsung memutuskan penyebab masalah terjadi. Kita harus mendefinisikan masalah tersebut mengapa bisa terjadi.

Hal penting juga adalah sejak dini, anak diajarin mengambil keputusan. Karena bila orang tua yang selalu memutuskan tujuan si anak, takutnya perkembangan anak tidak baik di masa depan.

Kita dapat mengambil contoh bagaimana pendidikan anak kita yang memutuskan dari Paud, TK hingga Sekolah. Saat anak akan pergi ke perguruan tinggi, kita harus dapat memberikan anak mengambil keputusan untuk jurusan yang diambil.

Kebanyakan orang, mengambil keputusan berdasarkan kenyamanan. Bukan karena kebutuhan atau keinginan dari diri sendiri yang sebenarnya pilihan.

...

Acara pun berakhir dengan sesi foto bersama. Meski kami tidak mendapatkan informasi yang kami harapkan bagaimana orang tua generasi milenial yang terjadi sekarang, semacam penelitian atau riset, ada hal berguna yang dapat kami tuliskan .

Tidak ada yang berbeda antara orang tua dulu dan orang tua generasi milenial dalam mendidik anak, orang tua harus memiliki skill dasar yang harus diterapkan, yaitu mendefinisikan dan mengambil keputusan yang dapat membawa kita satu langkah demi langkah.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

📱 Hari Media Sosial 2026: Antara FOMO Mal 23 & Gramedia Jalma, Serta Gagapnya Manajemen Krisis Digital

🏃‍♂️ Catatan Hari Kedua The Spark of Healthy Life 2026: Mengulas Cedera Olahraga Bersama Para Ahli

⚽️ Berburu Lokasi Nobar Resmi Piala Dunia 2026 di Kota Semarang: Siasat Hotel "Ganti Baju" hingga Markas Instansi

🎡 Agenda Jateng Fair 2026: Kembali Hadir 10 Hari dengan Tiket Masuk Gratis, Apa yang Baru?

🚲 Gowes ke Mal 23 Semarang: Di Mana Tempat Parkir Sepedanya?