Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Melbourne Rewind
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Film Melbourne Rewind rilis di bioskop tanah air tanggal 17 November 2016. Durasi yang dibawa sekitar 96 menit dengan genre drama. Untuk kategori penonton sendiri, film yang disutradarai Danial Rifky ini adalah remaja atau 13+. Berikut review filmnya.
Pamela Bowie kembali menghibur penonton dengan karakternya yang kurang lebih sama dengan saat ia bermain di film Winter in Tokyo. Karakternya? Bisa ditebak, perempuan si hidung merah. Tampak kuat tapi membuat wajahnya selalu sedih yang identik dengan warna hidung yang saya sebut sebelumnya.
Cerita
Mungkin bila tak melihat para bintang yang bermain, judul film Melbourne Rewind tidak cukup menarik buat saya. Apalagi film ini berbarengan dengan film #66 yang juga rilis dengan genre action.
Melbourne Rewind mencoba menyuguhkan suasana kota Melbourne yang sangat indah dengan balutan cerita cinta yang lumayan rumit.
Penonton langsung diajak pada sebuah pertemuan 2 orang yang terlihat canggung di awal. Perlahan, cerita masa lalu mereka, 5 tahun lalu, menjadi garis besar dari film ini untuk menjawab pertanyaan saya tentang pertemuan tadi.
Bagaimana Paula (Laura) masa Sekolah dulu dan akhirnya pindah ke Australia bersama sahabatnya. Dan pertemuan mereka karena sebuah walkman yang masih digunakan untuk memperlihatkan masa 5 tahun silam.
Mereka akhirnya jadian, Morgan Oey (Max) dan Laura. Namun, mereka juga putus. Penonton diajak bolak-balik mengumpulkan informasi secara utuh yang tanpa sadar membuat saya juga sangat penasaran.
Apa yang terjadi selama 5 tahun ditinggal Max? Sosok dokter hewan yang diperankan oleh Jovial da Lopez sebagai Evan masuk yang membuat suasana kembali menyenangkan.
Satu sisi, Laura merasa nyaman dengan kecocokan saat bersama Evan. Namun sisi lainnya, Evan berpacaran dengan Cee. Timbul pertanyaan, jadi sebenarnya ini Laura bakalan jadian sama siapa setelah Max datang kembali ke kehidupan Laura?
Saya senang Laura diperankan oleh Pamela Bowie. Karakternya sangat cocok yang membuat penonton yang duduk di depan saya bersama pasangannya ikut larut dalam kemesraan.
Teka-teki siapa yang akan jadi pasangan Laura pada akhirnya terjawab. Sebuah motivasi dari Ibu Laura yang diperankan Olga Lydia cukup memberi jawaban tentang kisah akhir film ini, cinta itu butuh keberanian dan pengorbanan.
Pemain film Melbourne Rewind
Bila sebelumnya di duetkan dengan Dion di film Winter in Tokyo dan ada juga Morgan, kali ini Pamela harus diduetkan langsung dengan Morgan sebagai tokoh cerita utama.
Hadirnya Jovial da Lopez sebagai tokoh pria lain yang biasa dikenal sebagai Youtuber juga ini sangat menarik. Karakternya berbanding terbalik dengan Max yang lebih kalem.
Pamela memang tidak seseksi Aurelie Mauremans dari paras dan tubuh, tapi untuk genre film drama romantis, saya selalu menyukai wajahnya yang sangat menjiwai peran. Termasuk ciri khas dengan hidung merah bila adegan sedih.
Ada juga Olga Lyda yang lama tak melihatnya di film bioskop beberapa waktu belakangan. Perannya tak diragukan dan tetap masih punya aura kecantikan.
Gambar
Rapi Films sebagai produksi, tak perlu diragukan bagaimana perusahaan ini membuat sebuah film. Melbourne Rewind sudah sangat baik disajikan, apalagi dibalut dengan suasana kota Melbourne.
Bila melihat hampir semua lokasi yang digunakan untuk pengambilan gambar, sepertinya ini termasuk bagian promosi wisata. Dugaan saya lumayan sedikit benar bila melihat kerjasama mereka dengan bagian Pariwisata di sana.
Penonton bukan saja mendapat cerita menarik dan sedikit berbeda dari yang biasa. Beberapa bangunan megah dengan nuansa kota lama disulap terlihat hidup. Plus pemandangan dari atas dengan balon udara.
...
Akhirnya saya menemukan sebuah cerita cinta yang berbeda, meski saya baru tahu bahwa flm ini diadopsi dari sebuah novel. Entah, apakah sebelumnya juga ada. Tapi untuk ini, saya beri rating yang dapat Anda lihat dibagian akhir tulisan saya.
Sangat jarang, wanita mengejar pria untuk dijadikan sebuah cerita. Meski ada, bisa dihitung. Kira-kira, Pamela akan tetap mempertahankan karakternya sebagai pemain wanita romantis di film selanjutnya, atau .. *jawab sendiri.
Wah, udah tayang filmnya. Nunggu hari Senin biar murah, semoga belum turun layar :D Ngomong-ngomong, ini film ketiga adaptasi dari novelnya Winna Efendi setelah Refrain & Remember When. Keren ya?
Selamat Hari Media Sosial, warga Semarang! Tidak terasa, setiap tanggal 10 Juni kita kembali diingatkan bagaimana platform digital telah mengubah cara kita menjalani hidup sehari-hari. Bagi kita yang menetap dan tumbuh di Kota Semarang, media sosial bukan lagi sekadar ruang pamer foto estetik, melainkan penggerak utama dari langkah kaki kita di sudut-sudut Kota Atlas. Mengingat momen ini, kami mendadak teringat dengan tulisan kami tepat setahun yang lalu ( Hari Media Sosial 2025: Mal Semarang Jago Main IG ). Saat itu, kami memberikan apresiasi tinggi kepada tim kreatif dan admin mal di Semarang yang makin jempolan mengelola Instagram. Mereka sukses mengubah akun mal menjadi pusat agenda kota yang interaktif, estetik, dan sangat fast response . Kami bahkan menyarankan pentingnya dorongan konten dan strategi digital untuk meramaikan tempat yang sepi. Setahun berselang, di bulan Juni 2026, lanskapnya ternyata sudah melompat jauh lebih ekstrem. Bukan lagi sekadar jago membuat konten agenda...
Setiap kali melintas dan memotret megahnya bangunan SMC RS Telogorejo Semarang dari luar, terselip tanya dalam hati: kapan ya ada kesempatan untuk menengok bagian dalamnya? Maklum, jika tidak ada kepentingan medis yang mendesak, tentu rasanya canggung untuk sekadar berkunjung. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sebuah momentum menarik datang bersamaan dengan digelarnya sebuah acara yang materinya sangat bersinggungan dengan aktivitas olahraga yang rutin kami geluti. Semesta seakan merestui rasa penasaran kami. Pihak rumah sakit menggelar hajatan besar bertajuk The Spark of Healthy Life: 3 in 1 Mega Seminar & Talkshow 2026 . Begitu pendaftaran dibuka melalui akun Instagram resmi @rs.telogorejo, kami langsung mendaftarkan diri. Beruntung, nama kami lolos kurasi untuk hadir pada hari kedua, Jumat, 22 Mei 2026, yang bertempat di Auditorium Lantai 3 Gedung Cattleya. Namun, tantangan langsung menghadang tepat di hari H. Hujan deras mendadak mengguyur Kota Semarang, memaksa kami untuk menerjang...
Piala Dunia 2026 tinggal hitungan jam saat kami menulis halaman ini. Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang berujung jadi konten. Gara-gara sedang berselancar di Instagram dan menemukan unggahan dari akun resmi TVRI Jawa Tengah yang membagikan daftar lokasi nonton bareng (nobar) resmi, kami langsung tergerak untuk membawanya ke blog. Lagi-lagi ini menjadi ide dadakan. Entah kenapa ingatan kami langsung terlempar pada bulan Februari kemarin, saat kami sedang bersepeda santai menuju Car Free Day (CFD) Simpang Lima. Waktu itu, kami sempat berpapasan dengan kampanye promosi berbau Piala Dunia 2026 . Aktor di balik layarnya ternyata masih sama: TVRI Jawa Tengah, sang pemegang hak siar resmi lewat program global mereka yang bertajuk "Bola Gembira" . Karena gelaran sepak bola terakbar ini hanya datang empat tahun sekali, kami pikir tidak ada salahnya ikut memeriahkan euforianya lewat coretan di blog. Apalagi aturan hak siar dan izin nobar sekarang semakin ketat. Membagikan tempat...
Pertengahan tahun di Kota Semarang rasanya belum lengkap kalau belum membahas kompleks PRPP Jawa Tengah di kawasan Anjasmoro. Ya, gelaran pesta rakyat terbesar di Jawa Tengah, Jateng Fair 2026, sudah resmi masuk dalam radar agenda kota bulan ini. Bagi kamu yang sudah mulai mencari tahu kapan event ini dimulai, catat tanggalnya: Jateng Fair 2026 akan berlangsung selama 10 hari, mulai dari tanggal 26 Juni hingga 5 Juli 2026. Format durasi yang lebih padat ini tampaknya kembali dipertahankan oleh pihak penyelenggara, PT PRPP Jawa Tengah. Sama seperti tahun lalu, kebijakan tiket masuk gratis juga kembali diterapkan untuk menarik antusiasme masyarakat secara massal ke area pameran . Namun, perlu dicatat ya! Gratis di sini hanya berlaku untuk memasuki area kompleks pameran dan stan Jateng Fair saja. Bagi kamu yang mengincar keseruan panggung hiburan musiknya, tetap diwajibkan mengantongi tiket masuk berbayar. Dengan target yang dipatok hingga 300 ribu pengunjung, apakah Jateng Fair t...
Setelah euforia hari pertama soft opening berlalu, kami penasaran untuk menjajal nekat bersepeda menuju kawasan POJ City. Tujuannya apalagi kalau bukan melihat langsung mal yang digadang-gadang terbesar di Jawa Tengah, Mal 23 Semarang . Tantangannya tentu lebih seru kali ini karena kami datang dengan cara gowes. Siapa sangka pada Minggu pagi, 24 Mei 2026, kami benar-benar melakukannya. Meski ini bukan kali pertama kami bersepeda ke arah pesisir, tetap saja semangat dan antusiasmenya terasa berbeda karena ada magnet baru di sana. Jika biasanya rute Minggu pagi dihabiskan ke CFD Simpang Lima, kali ini kemudi sepeda kami arahkan menuju kawasan Marina. Jaraknya dari pusat kota sendiri berkisar sekitar 8,7 km. Di media sosial, pembicaraan tentang 23 Semarang Shopping Center memang luar biasa masif. Tidak heran begitu kami tiba di lokasi, suasananya persis seperti yang dibayangkan: ramai dan penuh antusiasme. Beberapa waktu belakangan, tren FOMO (Fear of Missing Out) di Kota Semarang memang...
Wah, udah tayang filmnya. Nunggu hari Senin biar murah, semoga belum turun layar :D
ReplyDeleteNgomong-ngomong, ini film ketiga adaptasi dari novelnya Winna Efendi setelah Refrain & Remember When. Keren ya?
Iya.
DeleteBelum turun dong, peminatnya banyak kok.